Rabu, 20 Agustus 2014

Negeri Seribu Serigala

Indonesia, negeri dengan sejuta kekayaan dan keindahan bersama rakyat yang dikatakan seluruh dunia sebagai rakyat yang terbuka, santun, serta rukun. Namun keindahan surga Indonesia hilang bak debu ditiup angin semenjak para serigala bedebah masuk negara ini. 350 tahun Indonesia dijajah Belanda dan 3,5 tahun dijajah Jepang, Indonesia terus berbenah dari yang terpuruk dalam kekangan bangsa-bangsa keparat menjadi terbebas dan lepas hingga merdeka. Hampir 68 tahun negeri ini merdeka namun masih saja para bedebah bangsa ini tinggal di negeri ini. Bak seorang pelacur yang memamerkan tubuhnya ke semua orang, begitulah mereka. Walau seluruh noda hitam dalam dirinya diketahui masyarakat, seperti anak kecil yang tak berdosa mereka masih berani mengatakan, “bukan aku!” Apa yang mereka inginkan dari negara ini? Harta? Tahta? Atau wanita? Apa mereka tidak pernah berpikir bagaimana sejarah bangsa ini? Beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang mati demi bangsa ini namun apa yang mereka lakukan kini? Bukan hanya harta yang mereka rengut tapi juga kehidupan bangsa ini.
Para serigala sekarat pembawa mau hanya bisa tidur diatas uang rakyat, penindas rakyat menganggap hidup rakyat seperti kotoran. Mulai dari Soeharto penghianat hingga antek-anteknya tak henti-hentinya membunuh bangsa ini. Apa yang telah ia lakukan? Banyak! Ia membunuh harapan anak-anak bangsa ini, ia menjatuhkan harga diri bangsa ini, ia membuat Pancasila dan Garuda tak berarti. Namun dengan semangat para pejuang negeri ini, kita berani bangkit, kita berani angkat senjata dan bicara namun kita bukan melawan para penjajah tapi melawan sebuah rezim kekejaman yang kembali menumpahkan darah anak negeri ini.
Walaupun bedebah itu sudah lama mati, namun apa yang telah ia perbuat bagi negeri ini tetap kami ingat. Kami akan ingat apa yang ia perbuat dan menceritakan pada anak cucu kami bahwa ada seorang bedebah yang pernah memimpin negeri ini agar mereka tahu bagaimana caranya memimpin negara yang baik tidak seperti seekor serigala sekarat haus darah yang tewas karena kekejamannya sendiri.
Inilah ironi bangsa seribu serigala. Penuh dengan caci maki dan tamparan. Sulit mendapat cinta kasih. Tak pernah bepegang pada pendirian dan ideologi selalu membangkang dan tidak tahu malu.
Jika kalian hai para serigala sekarat hanya bisa mencontohkan sesuatu yang jahat pada kami, enyahlah kalian dari negeri ini. Negara ini tak butuh orang seperti kalian. Negara ini dibangun dengan darah dan keringat. Oleh sebab itu kami tidak mau melihat bangsa ini jatuh karena darah dan keringat. Kami ingin melihat bangsa ini jaya. Kami ingin bangsa ini maju bukan berkembang. Kami ingin bangsa ini menjadi aman dan tentram. Kami ingin kalian para serigala sekarat untuk segera dibumihanguskan dari negeri ini. Kami masih peduli terhadap bangsa ini. Kami masih peduli terhadap pahlawan kami. Kami masih peduli terhadap anak cucu kami. Oleh karena itu, enyahlah segera kalian dari muka bumi ini. Lebih baik kalian memerintah di dunia orang mati dengan begitu satu pun dari mereka yang kalian perintah tidak akan peduli.
Kami bukan boneka kalian. Kami punya hati dan pikiran serta jiwa. Hidup kami bukan untuk kalian hai serigala sekarat. Hidup kami untuk Tuhan dan bangsa ini. Kami tak mau mati sia-sia akibat ulah mu. Kami ingin hidup layak. Kami tidak butuh janji-janji kalian. Kami hanya butuh bukti dan kerja nyata. Oleh sebab itu dengar lah kami.

Hai serigala sekarat, tinggalkanlah dirimu dan kunjungilah kami. Lihat bagaimana tersiksanya kami dibawah tempat tidurmu. Rangkul lah kami dan rasakan bagaiamana kesusahan kami. Itu yang kau lakukan pada kami sudah cukup membuat kami bahagia. Tapi jagalah kebahagiaan kami itu. Jangan dengan membahagiakan kami lantas kalian meminta bayaran kepada kami. Jangan kalian kuras kembali bangsa ini. Cukuplah menguras hati dan pikiran kalian saja. Hanya itu yang kami inginkan. Semoga dengan melakukan kebaikan itu bangsa ini kembali jaya dan makmur serta disegani semua bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan berikan komentar anda :D