Tampilkan postingan dengan label Private. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Private. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Juli 2016

,
Yo... akhirnya paduan suara kami bisa membawa Gold Medal untuk kategori threesome Musica Sacra dan Bronze Medal untuk kategori Teenager Choir. Gimana kisah ku di Bali? Itu udah ada bagiannya sendiri bisa dilihat di sini. Sekali lagi, bagi yang gak kuat bacanya karena takut becek sampai mencrot-mencrot, mending jangan baca. Di sekuel ke tujuh ini (udah kayak novel Heli Kopter aja) aku bakalan ceritain tahun terakhir ku di dunia SMP Putri Cahaya. Aku beruntung kalau manusia-manusia sirik di kelas VIII yang lalu dengan sadar diri meminta keluar dari kelas unggulan. Sebut saja cucu-cucu Pilatus. Mereka meminta keluar dari kelas unggulan katanya gak aman dan nyaman (berbuat kejahatan) menurutku. Sebab, menjelang UN bahkan mereka cucu-cucu Pilatus masih menyempatkan untuk cabut massal. Bersyukur itu cucu-cucu Pilatus mempermalukan nama diri sendiri dan kelasnya yang katanya lebih nikmat. Well... karena ngebahas anak orang apalagi cucunya si Pilatus gak enak, yaudah balik lagi ke aku. Gak usah tegang-tengang kali lah.
,
Setelah dengan bodohnya aku ngeshare cerita-cerita laknat ini ke kawan-kawan SMP ku, mau tak mau mengikuti tuntutan orang banyak, akhirnya aku lanjutin sekuel drama korea cerita ku. Semenjak postingan terakhir mengenai mangkok-mangkok ini keluar tepat 4 bulan yang lalu, dengan (jujur) rasa gelisah (geli-geli basah) aku terpaksa melanjutkan cerita ini.

Rabu, 15 April 2015

,
Ciee penasaran ya apa yang kami buat di akhir semester 2 kelas VII? Ehmm... jadi gini. Kami di kelas VII wajib semuanya ikut pramuka karena itu program sekolah. Nah acara yang paling kami tunggu-tunggu adalah camping. Dari 40 orang kami sekelas, hanya 2 orang yang gak ikut, cewek dan cowok lagi. Ciee... mau ngapain kelen malam minggu, ehmmm... Alasan mereka gak ikut aku gak tahu dan gak penting juga sih. Lagian yang satu, yang cowok itu, emang pernah ikut pramuka tapi cuma sekali. Tepat pembukaan pramuka doang setelah itu gone entah kemana, katanya sih dia les. Les ketok mungkin *eh... kalau itu las ketok :p Kami kira camping di tempat yang hawanya sejuk, pemandangannya indah, dan bisa buat suatu kesan yang indah, eh ini gak. Kami camping diwilayah medan yang saat itu musim kemarau. Kebayang gak panasnya gimana. It’s ok yang penting sama teman-teman.
Kami kesana naik angkot pintu belakang. Kalau kami pergi sama-sama, yang paling berkesan itu waktu dijalan. Kenapa? Karena banyak hal yang bisa dilakukan dijalan. Seperti (ini true story lho) buat video clip di dalam angkot dengan music dari speaker angkot. Teringat kejadian itu tepat hari sabtu pulang pramuka. Dengan bermodalkan kamera HP, music dari speaker angkot + nahan malu kami buat video clip diangkot. Kami gak peduli orang-orang disekitar kami. Dengan beat music yang menghentak + jiwa music yang keluar, kami buat video clip itu. Dan itu selalu berkesan hingga saat ini. Dan aku harap kawan-kawan ku yang terlibat saat itu masih ingat.
,
Setelah lama gak ngeposting yang beginian, kangen juga (mulai lebay). Kali ini aku mau ceritain gimana bisa masuk ekskul yang awalnya aku nolak mati-matian alias gak bergengsi bingitzz kata anak alay. Nama ekskulnya “paduan suara” emang sih aku udah pernah ikut yang begituan waktu SD tapi semua hasilnya mengecewakan. Boro-boro dapat juara, masuk final aja gak pernah. Ya, atas balas dendam waktu SD, aku memutuskan gak mau masuk paduan suara di SMP. Memang saat itu paduan suara di Putri Cahaya gak terlalu besar namanya bahkan gak nampak lagi ada atau tidak paduan suara di sekolah ini. Terus kalau gak suka sama paduan suara, kok bertahan mulai dari junior sampai master bangkotan? Itu karena wali kelas ku dulu Sr. Yulita, KSSY. Pertama, dia panggil semua laki-laki yang notabenenya memang sedikit sekitar 14 orang lah. Lho kok sekitar 14 orang? Soalnya ada yang agak ehmm sikit (you know lah). Dari 14 kami, sudah dipastikan hanya sedikit yang terpilih dan yang terpilih pun dengan hati terpaksa ikut. Asal kalian tahu, dengan bermodalkan do re mi fa sol la si do aja aku bisa masuk. Padahal teman ku yang satu lagi dijelek-jelekkannya suaranya nah aku, aku kujelek-jelekkan suara ku kok masuk? (bukan sombong ya tapi emang iya :p) selanjutnya kami dikirim ke ruang OSIS yang pernah menjelma menjadi UKS.

Selasa, 25 November 2014

,
Masuk ke guru Bahasa Indonesia. Pertama aku lihat nama beliau di kertas roster yang ditempel didinding kelas kami, R. Tarigan namanya. Tapi entah kenapa waktu masuk pelajarannya, bukan orang yang berinisial R dan bukan orang yang bermarga Tarigan yang masuk melainkan anak baru tamat kuliah yang “katanya” dia alumni pucay. Entah benar entah enggak, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu. Nothing special sih waktu pengganti ibu itu masuk ke kelas. As usual, perkenalan yang sebenarnya gak penting buat dia karena toh dia hanya pengganti aja dan gak lebih :p
Oke kita tinggalin guru Bahasa Indonesia. Masuk ke pelajaran yang “dulu” sama sekali mejengkelkan dan bikin malu. Swear dah... Bahasa Inggris. Mungkin di pelajaran ini aku dapat nilai jelek untuk pertama kalinya di Putri Cahaya. Guru kami namanya H. Tampubolon, bukan haji ya. Beliau bilang dia biasa dipanggil Mr. T, pasti tahu lah dari mana “T” nya itu. Pertama kali beliau masuk telapak tangan agak basah keringat dingin gimana gini. Pasalnya dia minta beberapa dari kami yang menurutnya memasang wajah takut dan kayak gak belajar maju kedepan untuk memperkenalkan diri dalam bahasa inggris sambil mengeja nama kami dengan bahasa inggris. Yah terpaksa pasang muka semangat dan kayak orang pintar biar gak dipilih maju kedepan. Tapi itulah derita. Maunya gak kepilih, malah kepilih. Dengan modal ei-bi-ci dan telapak tangan basah karena gugup, aku pun maju. Untung modal ei-bi-ci dan telapak tangan basah karena gugup sangat ampuh untuk orang yang gak begitu diperhitungkan di kelas.

Sabtu, 30 Agustus 2014

,
Cerita ini dimulai pada tanggal 11 Juli 2011 dari kelas VII-1 SMP Putri Cahaya Medan. Setelah lulus UN SD, aku sebenarnya niat masuk sekolah yang katanya “rival terbesar” Putri Cahaya. Namun Tuhan berkata lain, ya aku dimasukkan ke SMP yang dikenal orang sebagai SMP terbaik di kota Medan. Perhatian ku akhirnya beralih ke Putri Cahaya karena Tuhan kasih hadiah yang gak pernah aku bayangin sebelumnya. Entah gimana aku bisa dapat juara 1 test masuk SMP Putri Cahaya. Bergerak dari situ aku putuskan untuk masuk ke SMP Putri Cahaya.
Pertama kali masuk sekolah ini, rasanya aneh. Iya... betul-betul aneh! Kok aneh? Pertama dari lapangan. Waktu lihat lapangan sekolahnya, seolah-olah lihat samudra Pasifik, luasss.... kalii... tapi setelah beberapa bulan di sekolah itu, jangan kan samudra Pasifik, untuk main jongkok kring aja kurang luas. Udah gitu teman-temannya. Kok aneh? Jelas lah aneh. Masa orang-orang aneh dikumpulin jadi satu kelas? Apa gak makin aneh? Tapi itulah cerita diawal sekali.
Selanjutnya, ada yang katanya MOS. Ini dia acara yang paling gak ku suka. Dengar namanya aja udah kayak dengar kalau besok mau kiamat. But untunglah MOS nya hanya penyuluhan tentang lingkungan di aula YSA. (Tapi entah kenapa setelah angkatan kami MOS di aula yayasan, angkatan selanjutnya gak diizinkan lagi MOS disitu :p).
Bersyukur masuk di kelas VII-1 of Putri Cahaya Junior High School. Awalnya aku gak tahu sama sekali tentang kelas unggulan di Putri Cahaya, namun setelah Sr. Yulita, KSSY (Wali kelas-red) ngasih tahu ke kami kalau kelas VII-1 itu kelas unggulan dari kelas VII lainnya. Entah apanya yang unggul aku pun tak tahu (itulah retorika yang sering dilontarkan guru pada kami).