Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 November 2015

,
Aku anak baru di sekolah baru ku ini. Aku pindahan dari salah satu kota besar di Indonesia. Terpaksa pindah gara-gara orang tua ku pindah kerja. Sekarang aku duduk di kelas XI, tepatnya di lantai 2 gedung sekolah ku. Di lantai 3 ada beberapa kelas X dan satu lokal kelas XI. Hari kedua di pagi itu, aku datang paling awal daripada teman-teman sekelasku. Otomatis gak ada yang bisa kulakukan selain membaca buku pelajaran. Memang kalau belum menjelang bel masuk, sekolah masih sepi. Bahkan orang yang lagi jalan di lorong gedung aja kedengaran sampai ke dalam. Ketika aku sedang asyik-asyiknya membaca buku, aku mendengar seperti suara kaki berlari-lari tepat diatas kepala ku. Awalnya biasa saja, namun akhirnya aku merasa terganggu juga. Karena aku yakin itu ulah kelas satu yang masih pada bocah, aku keluar kelas kemudian naik ke lantai 3. Ketika sampai di lantai 3, aku lihat suasana masih sepi, “Apa aku salah dengar ya?”. Namun aku tak percaya, sehingga aku datangi kelas tersebut. Sampai di depan kelas itu, aku mengetok pintunya dan muncullah seorang anak kelas X. “Dek, jangan lari-lari. Runtuh entar sekolah ini. Lagian suara kaki kalian ganggu abang di bawah.” Kata ku kesal. “Oh gitu ya bang?” tanya anak itu. Lalu 2 orang temannya muncul dari balik pintu dan memerhatikan aku dengan aneh. Merasa tak biasa di perhatikan seperti itu, akhirnya aku pergi tanpa pamit. 
Ketika aku turun dari lantai 3, aku bingung kenapa 2 orang anak kelas X tadi memerhatikanku seperti melihat orang aneh. Kelihatan mereka seperti tidak pernah lihat orang lain, tapi tak mungkin. Ketika berjalan ke kelas, aku berpapasan dengan temanku yang barusan naik ke lantai 2. “Eh, kau darimana?” tanya temanku. “Dari lantai 3, negor adek kelas.” Jawabku. “Kelas berapa?” tanyanya balik. “Kelasnya aku gak tahu, pokoknya kelasnya ada tepat di atas kelas kita.” Jawabku. Seketika itu wajah temanku menunjukkan raut aneh. “Kau tahu, gak ada kelas diatas kelas kita. Itu bukan kelas, itu gudang!” jawab temanku. Aku terperanjat mendengar jawaban darinya. “Seriusan? Tadi ada 3 orang kok yang keluar dari ruangan itu, lalu tadi semuanya tertata rapi layaknya kelas. Ayo kita lihat lagi!” ajakku. Ketika kami sampai diatas, memang benar ruangan itu bukan kelas tapi gudang yang gak terawat. Aku benar-benar syok gak tahu mau bilang apa lagi. Ketika aku mau kembali ke kelas, temanku menemukan bukuku yang perasaan tadi gak kubawa ke atas. Dan ketika kubuka untuk mengecek apakah buku itu milikku atau tidak, aku terkejut. Di bagian tengah buku tersebut ada gambar 3 orang anak berpakaian SMA dengan kepala yang berpisah dengan badannya.
,
Sebulan yang lalu aku baru saja masuk ke SMA favorit di kota ku. SMA ini cukup bergengsi dengan segudang prestasi dan juga fasilitas yang bisa dibilang lebih dari sebuah sekolah. Di sekolah ku setiap siswa baru diwajibkan memilih satu ekskul dan wajib mengikuti ekskul itu selama setahun. Akhirnya aku memilih ekskul Paskibraka. Alasan ku memilih ekskul ini karena dulu ketika SMP aku sempat ikut paskibra pada acara-acara besar sekolah. Karena ekskul ini salah satu yang terpopuler disekolah, masuk ke ekskul ini jadi lebih kompetitif walau aku yakin gak mungkin gak diterima. Setelah proses pendaftaran dan lain-lain, akhirnya tibalah malam pengukuhan khusus ekskul ini saja di sekolah. Ya... namanya juga malam pengukuhan, pastinya bakalan nginap di sekolah. Aku bersama teman sekelasku ikut pengukuhan ini. Selama di kelas sering aku terpikirkan apa yang akan dilakukan senior-senior ku ketika malam pengukuhan nanti. Apakah mengerikan atau seperti apa? “Eh... lagi mikirin apa kau?” tanya teman ku. “Mikirin malam pengukuhan nanti.” Jawabku. “Hah... sama.” Balasnya, “Kau udah tahu cerita gak?” “Cerita apa?” tanyaku penasaran. “Ah... nanti kau gak percaya.” Jawab temanku. “Udahlah, cerita aja dulu kau. Masalah percaya atau gak, urusan belakangan lah itu.” Kata ku. “Gini lo.” Jawab dia, “Tepat malam pengukuhan dan malamnya pengukuhan ekskul kita ini, ada suatu tragedi.” Kata temanku dan diam sementara. “Tragedi apa?” tanyaku penasaran. “Tragedi penyiksaan senior kepada juniornya.” Jawabnya dengan pelan. “Ah... serius kau? Terus?” tanyaku semakin penasaran. “Juniornya meninggal. Jenazahnya ditemukan tepat di lantai 3.” Jawab temanku. Mendengar ceritanya, seketika itu naik bulu kuduk ku. Setelah mendengar cerita singkat dia, aku gak bertanya apa-apa lagi dan kawanku pun tadi langsung pergi.
Tibalah malam yang ku khawatirkan itu. Kami dikumpulkan sebelum matahari terbenam, mandi, makan, dan segera bersiap-siap. Diawali dengan pembagian kelompok, setiap kelompok beranggotakan 5 orang dengan satu pemimpin. Setelah itu kami dipimpin untuk masuk ke acara pertama yaitu tes mental. Namun tes mental ini menguji kekompakan kami setim. Kami harus masuk ke gedung sekolah yang gelap dengan 1 senter yang dipegang leader dan mencari nama-nama teman setim lalu keluar dan melaporkannya kembali ke senior kami. Kami mendapati giliran pertama. Ketika menaiki tangga menuju lantai 2, leader kami memutuskan untuk membagi 2 tim. 1 tim beranggotakan 3 orang dan tim lain sisanya. Aku bersama seorang temanku. Karena pencahayaan hanya mengandalkan sinar dari luar gedung, terpaksa kami harus berpegangangan agar tak terpisah. Perjalanan terus kami 2 lakukan namun ada yang aneh dengan teman ku. Kurasakan pergerakannya melambat dengan jalan diseret. Aku bertanya namun dia diam saja. Aku tak pedulikan itu. Akhirnya aku menemukan nama ku sendiri. Ketika aku hendak menyimpan kertas yang berisi nama ku, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundakku dengan keras dan berkata, “Dari mana aja kau?” “Kan nyari nama-nama tadi. Ini aku lagi sama....(menoleh ke arah belakang)” jawabku. “Lagi sama siapa kau? Gak kau lihat ini kalau kami berempat?” kata leaderku. Seketika aku terdiam dan aku merinding hebat. “Jadi, yang tadi aku pegang pundaknya siapa?” pikirku ketakutan dalam hati.

Setelah nama-nama kami berhasil dikumpulkan, tim kami segera menuju lapangan dimana senior sudah menunggu. Walau gedung sekolah gelap, lebih gelap lagi lapangan. Kami harus berjalan dengan berpengangan pundak dan pencahayaan senter. “Karena kalian sudah sampai disini,” kata senior kami, “Berhitung, mulai!” Kami pun mulai berhitung. Aku berada di barisan nomor 5 alias yang terakhir. Ketika aku selesai berhitung, secara tiba-tiba dari sebelah kananku ada yang berhitung, “Enam!” Seketika suasana menjadi sepi. “Hei leader,” tanya senior, “Ada berapa jumlah kalian semua?” “Lima kak.” Jawabnya. “Jadi kenapa sampai 6 hitungannya?” tanya senior kembali. Kami pun diam dalam bingung. Aku tak tahu siapa yang ada di sebelah kananku. Aku mencoba menyetuh tangannya, namun terasa dingin, sangat dingin. Lalu senior ku memerintahkan untuk hitung ulang. Ketika sampai ke aku, hitungan bukannya berhenti malah masuk kembali ke enam. Aku memberanikan diri menoleh ke kanan, ketika aku lihat ke kanan, kulihat seorang dengan kepala berdarah, wajah rusak, dan muka pucat berdiri tepat di sebelah kananku. Seketika itu aku jatuh pingsan. Ketika aku bangun, aku sadari hari sudah pagi dan aku masih berada di lantai 3.

Minggu, 01 November 2015

,
Aku bekerja di suatu perusahaan yang bergerak dibidang teknologi dengan gaji yang lumayan untukku seorang. Aku tinggal di kos padat penduduk di kota Medan. Kebetulan kos ku dekat dengan sebuah warnet yang cukup ramai. Terkadang aku ke warnet ini kalau tidak bekerja, hanya sekedar chatting atau main game online. Ketika aku datang selalu saja warnet ini ramai tak sepi pengunjung. Suatu malam, insomnia ku kambuh. Paket internet di smartphone ku habis. Begitu juga dengan modem ku. Terpaksa aku keluar kos untuk pergi ke warnet sekedar main game online hingga subuh. Ketika di jalan aku bertemu teman kos sebelah yang juga mau ke warnet. “Eh.... mau ke warnet juga kau?” tanyanya. “Ya.... gak bisa tidur aku.” Jawabku. “Eh... kau tahu gak tentang warnet itu kalau malam-malam?” tanya temanku. “Hmm.... yang pernah kau ceritakan itu ya?” tanyaku kembali. “Ya...” jawabnya singkat, “Terkadang mau muncul penampakan wanita cantik dengan pakaian biasa di lantai dua.” “Ah.... seriuslah kau. Ku kira bercanda aja kau waktu itu.” Kataku khawatir. “Ngapain aku bohong? Untunglah kita jumpa di jalan.” Katanya.
Sampai di warnet, aku langsung pesan paket malam dari jam 22.00 sampai 06.00 di lantai dua. Ketika menapaki tangga menuju lantai dua, aku masih kepikiran dengan yang diceritakan kawan ku tadi. Entah benar atau gak, aku gak mau percaya dengan yang begituan. Akhirnya permainan ku di dunia maya dimulai. Tak terasa sudah 2 jam aku bermain. Sekarang tepat tengah malam. Dan kawan sebelah kos ku sudah pulang sejak 1 jam yang lalu. Kembali aku serius bermain game dengan headset di telinga ku. Beberapa menit kemudian lewatlah seorang perempuan dengan kepala tertunduk dan rambut menutupi wajahnya dari depan bilikku. Aku gak curiga dengan perempuan itu. Mungkin dia juga salah satu pelanggan di warnet ini. Tapi timbul lagi pertanyaan di kepala ku, “Kok ada ya cewek malam-malam gini main warnet? Apa gak dimarahin orang tuanya? Apalagi dia cewek.” Mencoba menepis pikiran negatif, aku melanjutkan bermain.
Sekitar pukul 01.00 aku ingin buang air kecil. Ku hentikan game online ku dan menuju ke kamar mandi yang searah dengan jalan perempuan tadi. Ketika aku lewat, aku melihat perempuan itu hanya tertunduk dengan rambut terurai di depan monitor yang sama sekali tidak hidup. “Lah, udah satu jam dia disini, kok PCnya mati?” pertanyaan itu muncul di benakku. Langkah ku ke kamar mandi ku percepat. Tak terasa keringat dingin mengucur deras di tubuhku.
Setelah selesai, aku langsung kembali. Dan tetap saja masih kulihat perempuan itu tertunduk. Jantung ku berdetak kencang, aku bukan kembali ke bilikku malah menuju tangga dan turun menuju kasir. Ketika sampai di kasir, aku menjumpai operator warnetnya, “Bang, tadi pas aku ke kamar mandi, ada cewek yang cuma duduk tertunduk di depan monitor di bilik dekat kamar mandi, siapa itu bang?” Ketika aku bertanya, wajah operator warnetnya berubah khawatir, “E... dari tadi gak ada yang masuk. Seriusan! Nah, lihat aja billingnya. Kan bisa abang lihat kalau cuma abang yang di lantai dua. Lagian juga dari tengah malam tadi cuma abang yang masih di warnet ini.” Seketika itu naik bulu kudukku. Aku terdiam beberapa detik hingga suara operator warnet menyadarkanku. “Kalau abang gak berani lagi, yaudah, simpan waktu aja. Pulang aja abang dulu besok datang lagi.” Semenjak saat itu aku tak berani lagi ke warnet itu malam-malam apalagi sendiri. Dan apa yang diceritakan kawan sebelah kos ku, ternyata benar.
,
Malam ini aku ada rencana naik motor tengah malam bareng teman-teman sekantorku. Rencana kami dimulai pukul 9 malam sampai fajar. Namun karena hari ini aku banyak pekerjaan, mau tak mau aku harus menyelesaikannya dulu dan berangkat jam 21.30, ya.... telat 30 menit. Ketika sampai di meeting point, aku tak menemukan siapapun. Aku berpikir, wajar kalau mereka meninggalkanku. Lalu, kulanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya dan mereka juga tak ada disitu. Aku memacu kencang motorku hingga kulihat rombongan pesepeda motor dari jauh. Aku pastikan itu teman-teman ku keliahtan dari nomor polisinya. 2 nomor polis mereka aku kenal. Sambil membunyikan klakson dan memanggil nama mereka, aku memacu cepat motorku dengan tak biasa. Namun mereka tak berhenti. Mereka terus melaju.
Ketika aku menambah kecepatan, kurasakan agak berat tarikan motorku. Bukannya makin cepat malah makin lambat dan akhirnya mati. Ketika ku pinggirkan motorku, aku merasa sedang membonceng seseorang. Ku beranikan diriku menoleh ke belakang. Ternyata hanya perasaanku. Namun ketika aku menoleh kedepan, sesosok wanita berambut panjang dengan pakaian terusan putih berdiri tepat di tengah jalan membelakangiku. Kulihat kakinya tak menyentuh aspal. Aku coba hidupkan mesin motorku, tak hidup juga. Tiba-tiba kepala wanita itu menoleh 180° ke arah ku. Tepat diatas motorku aku menutup mata ketakutan berharap sesosok wanita itu segera pergi.
Lama aku menutup mata, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyentuh pundakku, aku terkejut dan jatuh. “Aduh mas, maaf.” Kata orang itu, “Tadi saya lihat mas ketiduran disini. Saya kira mas lagi mabuk, atau jangan-jangan mas lihat sesosok itu ya?” “Lho, kok tahu mas?” tanyaku. “Disini mah sering mas, apalagi kalau masnya ribut semisal hidupin klakson, pasti muncul dianya mas.” Jawab orang itu, “Masnya mau kemana?” “Saya lagi ngikutin teman-teman saya kesana.” Jawabku. “Lebih baik mas pulang saja. Lagian sedari tadi tidak ada siapa-siapa yang lewat sini.” Kata orang itu. Karena ketakutan, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. 
Keesokan harinya aku langsung menemui teman-teman sekantorku dan cerita semua yang kualami. Mulai dari kenapa mereka tak dengar suaraku dan klakson hingga ketemu sesosok wanita tersebut. Setelah aku selesai bercerita, mereka saling memandang memasang wajah bingung dan salah satu menjawab, “Kemarin malam acaranya dibatalkan. Satupun dari kami gak ada yang pergi.” Sekarang, aku yang diam dan bingung.

Kamis, 30 Juli 2015

,
Once upon a time, there was a poor carpenter who always cut woods on the forest. One day, he cut woods on the edge of the valley. He cut the wood with pleasure. Suddenly, because he was too happy, the carpenter’s axe escped from his hand and fall into the deep valley. He sat on the edge of the valley and cried  there. “How do I cut the woods without my axe?” He said. He cried all the noon. Suddenly, a fairy appeared from the deep valley and asked the poor carpenter, “What happen carpenter? Why do you cry?” “I was cut some woods here, but my axe was escaped from my hand and fall into that valley.” Answered the poor carpenter. “Oh... I see.... let me help you.” Said the Fairy. Then, the fairy appeared again to the surface of the valley and said, “Is this your axe, carpenter?” at the same time the fairy showed the golden axe. “No! That’s not my axe!” answered him. Then, the fairy took another axe and said, “Is this your axe, carpenter?” at the same time the fairy showed the silver axe. “No! That’s not my axe!” Then the fairy took another axe and appeared again, “Is it yours?” at the same time the fairy showed the bronze axe. “Absolutely not!” answered the carpenter. And then, the fairy took another axe and asked, “Is this your axe?” at the same time the fairy showed the carpenter’s axe. “Yeah! That’s mine! Oh thank you good fairy!” said the carpenter. “Because your honesty, as a gift, I give you 3 another axes.” Said the fairy. After he got back his axe with the gifts, the carpenter went home happily.

Rabu, 22 Juli 2015

,
Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Hari ini sabtu hari pertama mos. Aku sama 2 srikandi-srikandi sekelompok ngeberantas hama wereng, eh gak deng. Kelompok kami namanya U Torrent. Adek-adek yang didalam aneh-aneh semua. Ada yang itam kayak pantat panci, ada juga yang tinggi putih kayak kuntilanak (padahal dia cowok). Di mos hari pertama ini, serasa kata kawanku kalau kayak kami lah yang di mos. Banyak juga yang bertingkat di luar kadar kemanusiaan. Adalah yang bertingkah hewani ada pula yang bertingkah nabati. Pas mos ini, banyak yang berpikiran bakalan bisa balas dendam. Tapi aku gak. Sesuai visi dan misi ku yang menjunjung tinggi rasa kepedulian, kemanusiaan, dan cinta kasih. Aku gak mau melanggar visi dan misi ku sendiri. Karena aku percaya, cinta bisa ngerubah batu jadi kerikil. Mau bukti? Lihat aja
,
Di akhir-akhir hidupku di kelas X, aku mau coba sesuatu yang greget yang bisa diingat nanti kalau udah tua (emang yakin sampe tua?) Ya... tahun ini aku daftar jadi kakak mos untuk ngemos anak baru yang bakalan berseliweran kayak nyamuk rangrang (semut kali rangrang) kesan-kesini kayak nyari kontrakan. But, perjalanan jadi kakak mos gak segampang ambil formulir, isi, lalu ngajuin CV (mau daftar kerja Do?). Ngak lah.... but, tapi ini benar. Seleksinya ketat kali. Kita minta form sendiri, isi sendiri, masak sendiri *eh ngak deng, lalu minta tanda tangan sama bapak waka kesiswaan. Bagaikan ngadep ke personalia bagian perusahaan berharap dengan gelisah (geli-geli basah) itu form ku di acc sama beliau. Oh yeah.....

Senin, 27 Oktober 2014

,

Aku menatap matanya  sambil memegang tangannya. Dengan alunan musik yang tenang berusaha ku hilangkan ketegangan ku. Kuberanikan diri mengeluarkan kata-kata itu dari hati ku. “I love you!” ku katakan. Kurasakan semuanya dingin, aku takut kalau dia marah, aku takut status pertemanan yang selama ini terjalin hilang. Terlihat dari raut wajahnya menunjukkan seseuatu yang akan keluar dari mulutnya. “I’ve waited this moment for long. And you do it for me, dear. I love you too!” jawabnya. Mendengar itu serasa beban hidupku terlupakan, jawaban yang mengerikan dari mulutnya ternyata tidak keluar. Cinta yang kunanti-nanti kita sudah di depanku.
Semenjak hari itu hubungan kami lebih erat dari prangko dan surat. Ibarat suami istri, kemana-mana berdua. Aku sangat menysukuri mendapatkan seorang wanita seperti dia. Bagaimana tidak, seorang wanita yang bukan hanya indah diluar namun indah di dalam. Dan kalian bisa menebak bahwa aku mencintai dia karena hal itu.
Hari, minggu, bulan, dan tahun berlanjut. Kini kami sudah memasuki 5 tahun hubungan kami sebagai sepasang kekasih. Yang kata orang ini saatnya untuk melamar. Namun rasa itu belum ada pada diriku. Tepat sekali hari ini adalah hari jadian kami yang ke 5. Kali ini hal yang mainstream yang sudah bertahun-tahun ku lakukan untuknya untuk sementara kutahan lebih dahulu. Sekalipun dia tak di kota ini sekarang, rencana ini tetap akan kulakukan.

Jumat, 04 Oktober 2013

,
Di Jerman tinggal seorang tukang arloji. Namanya Herman Josep. Dia tinggal di sebuah kamar yang sempit. Di kamar itu ada sebuah bangku kerja, sebuah lemari tempat kayu dan perkakas kerjanya, sebuah rak untuk tempat piring dan gelas serta tempat tidur lipat di bawah bangku kerjanya.

Selain puluhan arloji yang sudah dibuatnya tidak ada barang berharga lain di kamarnya. Di jendela kaca kamar itu Herman menaruh sebuah jam dinding paling bagus untuk menarik perhatian orang-orang yang lewat. Herman adalah seorang tukang arloji yang miskin. Pakaiannya compang-camping. Tetapi dia baik hati. Anak-anak di sekitar rumah menyukainya. Kalau permainan mereka rusak, Herman biasa diminta memperbaiki. Herman tak pernah minta satu sen pun untuk itu. “Belilah makanan yang enak atau tabunglah uang itu untuk hari Natal.” Ini jawaban yang Herman selalu berikan.

Sejak dulu penduduk kota itu biasa membawa hadiah Natal ke kathedral dan meletakkannya di kaki patung Maria yang sedang memangku bayi Yesus. Setiap orang menabung supaya bisa memberi hadiah yang paling indah pada Yesus. Orang-orang bilang, kalau Yesus suka hadiah yang diberikan kepada-Nya, Ia akan mengulurkan tangan-Nya dari pelukan Maria untuk menerima bingkisan itu. Tentu saja ini legenda. Belum pernah terjadi bayi Yesus dalam pelukan Maria mengulurkan tangan menerima bingkisan Natal untuk-Nya.

Meskipun begitu penduduk kota itu selalu berusaha membawa bingkisan yang paling indah. Para penulis puisi membuat syair-syair yang aduhai. Anak-anak juga tidak ketinggalan. Setiap orang berlomba memberikan yang terbaik pada Yesus di Hari Natal. Siapa tahu, kata mereka, Yesus mengulurkan tangan menerima pemberian itu. Orang-orang yang tidak punya bingkisan, pergi ke Gereja untuk berbakti pada malam Natal sekaligus menilai bingkisan mana yang terindah. Herman, tukang arloji, adalah salah seorang yang hanya pergi untuk berbakti dan menonton.

Pernah ada seorang teman mencegah Herman dan bertanya: “Kau tidak tahu malu. Tiap tahun kau tak pernah membawa bingkisan Natal buat Yesus?” Pernah satu kali panitia Natal bertanya: “Herman! Mana bingkisan Natal darimu? Orang-orang yang lebih miskin dari kau saja selalu bawa.” Herman menjawab: “Tunggulah, satu ketika saya akan bawa bingkisan.” Tapi sedihnya, tukang arloji ini tak pernah punya apa-apa untuk Yesus. Arloji yang dibuatnya dijual dengan harga murah. Kadang-kadang ia memberikan gratis pada orang yang benar-benar perlu.

Tetapi dia punya ide. Tiap hari ia bekerja untuk bingkisan natal itu. Tidak satu orangpun yang tahu ide itu kecuali Trude, anak perempuan tetangganya. Trude berumur 7 tahun waktu ia tahu ide Herman. Tetapi setelah Trude berumur 31 tahun bingkisan itu belum selesai. Herman membuat sebuah jam dinding. Mungkin yang paling indah dan belum pernah ada. Setiap bagian dikerjakan dengan hati-hati dan penuh kasih. Bingkainya, jarum-jarumnya, beratnya, dan yang lainnya diukir dengan teliti. Sudah 24 tahun Herman merangkai jam dinding itu.

Masuk tahun ke-25 Herman hampir selesai. Tapi dia juga masih terus membantu memperbaiki mainan anak-anak. Perhatiannya pada hadiah Natal itu membuat dia tidak punya cukup waktu untuk buat arloji dan menjualnya. Kadang Herman tidur dengan perut kosong. Ia makin tambah kurus tetapi jam dindingnya makin tanbah cantik. Di jam dinding itu ada kandang, Maria sedang berlutut di samping palungan yang di dalamnya terbaring bayi Yesus. Di sekeliling palungan itu ada Yusuf serta tiga orang Majus, gembala-gembala dan dua orang malaikat. Kalau jam dinding itu berdering, orang-orang tadi berlutut di depan palungan Yesus dan terdengar lagu “Gloria in Excelsis Deo”.

“Lihat ini!” kata Herman pada Trude. “Ini berarti bahwa kita harus menyembah Kristus bukan hanya pada hari Minggu atau hari raya tetapi pada setiap hari dan setiap jam. Yesus menunggu bingkisan kita setiap detik.” Jam dinding itu sudah selesai. Herman puas. Ia menaruh benda itu di jendela kaca kamarnya supaya bisa dilihat orang. Orang-orang yang lewat berdiri berjam-jam mengagumi benda itu. Mereka sudah menduga bahwa ini pasti bingkisan Natal dari Herman. Hari Natal sudah tiba. Pagi itu Herman membersihkan rumahnya. Ia mengambil pakaiannya yang paling bagus. Sambil bekerja ia melihat jam dinding itu. Ia takut jangan-jangan ada kerusakan. Dia senang sekali sehingga ia memberikan uang yang dia miliki kepada pengemis-pengemis yang lewat di rumahnya.

Tiba-tiba ia ingat, sejak pagi dia belum sarapan. Ia segera ke pasar untuk membeli sepotong roti dengan uang terakhir yang ada padanya. Di lemarinya ada sebuah apel. Ia mau makan roti dengan apel itu. Waktu dia buka pintu, Trude masuk sambil menangis. “Ada apa?” tanya Herman. Suami saya mengalami kecelakaan. Sekarang dia di RS. Uang yang kami tabung untuk beli pohon Natal dan kue harus saya pakai untuk bayar dokter. Anak-anak sudah menuggu hadiah Natal. Apa lagi yang harus saya berikan untuk mereka?”

Herman tersenyum. “Tenanglah Trude. Semua akan beres. Saya akan jual arloji saya yang masih sisa. Kita akan punya cukup uang untuk beli mainan anak-anak. Pulanglah.”

Herman mengambil jas dinginnya lalu pergi ke pasar dengan satu jam tangan yang unik. Ia tawarkan jam itu di toko arloji. Tapi mereka tidak berminat. Ia pergi ke kantor gadai tapi pegawai-pegawai bilang arloji itu kuno. Akhirnya ia pergi ke rumah walikota. “Tuan, saya butuh uang untuk membeli mainan bagi beberapa anak. Tolong beli arloji ini?” Pak walikota tertawa. “Saya mau beli arloji tetapi bukan yang ini. Saya mau jam dinding yang ada di jendela kaca rumahmu. Berapapun harganya saya siap.” “Tidak mungkin tuan. Benda itu tidak saya jual.”"Apa? Bagi saya semua mungkin. Pergilah sekarang. Satu jam lagi saya akan kirim polisi untuk ambil jam dinding itu dan kau dapat uang 1000 dolar.”

Herman pergi sambil geleng-geleng kepala. “Tidak mungkin! Saya mau jual semua yang saya punya. Tapi jam dinding itu tidak. Itu untuk Yesus.” Waktu ia tiba dekat rumah, Trude dan anak-anaknya sudah menunggu. Mereka sedang menyanyi. Merdu sekali. Baru saja Herman masuk, beberapa orang polisi sudah berdiri di depan. Mereka berteriak agar pintu dibuka. Jam dinding itu mereka ambil dan uang 1000 dolar diberikan pada Herman. Tetapi Herman tidak menerima uang itu. “Barang itu tidak saya jual. Ambillah uang itu,” teriak Herman sedih. Orang-orang itu pergi membawa jam dinding serta uang tadi. Pada waktu itu lonceng gereja berbunyi. Jalan menuju kathedral penuh manusia. Tiap orang membawa bingkisan di tangan.

“Kali ini saya pergi dengan tangan kosong lagi”, kata Herman sedih. “Saya akan buat lagi satu yang lebih cantik.” Herman bangkit untuk pergi ke gereja. Saat itu ia melihat apel di dalam lemari. Ia tersenyum dan meraih apel itu. “Inilah satu-satunya yang saya punya, makanan saya pada hari natal. Saya akan berikan ini pada Yesus. Itu lebih baik dari pada pergi dengan tangan kosong.”

Katedral penuh. Suasana bukan main semarak. Ratusan lilin menyala dan bau kemenyan terasa di mana-mana. Altar tempat patung Maria memangku bayi Yesus penuh dengan bingkisan. Semuanya indah dan mahal. Di situ juga ada jam dinding buatan tukang arloji itu. Rupanya Pak walikota mempersembahkan benda itu pada Yesus. Herman masuk. Ia melangkah dengan kaki berat menuju altar dengan memegang apel. Semua mata tertuju padanya. Ia mendengar mereka mengejek, makin jelas. “Cih! Dia memang benar-benar pelit. Jam dindingnya yang indah dia jual. Lihatlah apa yang dia bawa. Memalukan!”

Hati Herman sedih, tetapi ia terus maju. Kepalanya tertunduk. Ia tidak berani memandang orang sekeliling. Matanya ditutup. Tangan yang kiri diulurkan ke depan untuk membuka jalan. Jarak altar masih jauh. Herman tahu bahwa ia harus naik anak tangga untuk sampai ke altar. Sekarang kakinya menyentuh anak tangga pertama. Herman berhenti sebentar. Ia tidak punya tenaga lagi. Sejak pagi dia belum makan apa-apa. Ada tujuh anak tangga. “Dapakah saya sampai ke altar itu?”

Herman mulai menghitung. Satu! Dua! Tiga! Empat! lalu ia terantuk dan hampir terguling ke bawah. Serentak semua orang berkata: “Memalukan!” Setelah mengumpulkan sisa tenaga Herman bergerak lagi. Tangga kelima. Kedengaran suara mengejek: “Huuuu…!” Herman naik setapak lagi. Tangga keenam. Omelan dan ejekan orang-orang berhenti. Sebagai gantinya terdengar seruan keheranan semua orang yang hadir. “Mujizat! Sebuah mujizat!!!”

Hadirin seluruhnya turun dari kursi dan berlutut. Imam merapatkan tangannya dan mengucapkan doa. Herman, tukang arloji yang miskin ini menaiki anak tangga yang terakhir. Ia mengangkat wajahnya. Dengan heran ia melihat patung bayi Yesus yang ada di pangkuan Maria sedang mengulurkan tangan untuk menerima bingkisan Natal darinya. Air mata menetes dari mata tukang arloji itu. Inilah hari Natal yang paling indah dalam hidupnya.
,
Malam ini hujan sangat deras seklai. Petir menggelegar dimana – mana dengan kuatnya pikir Nisa saat sedang menontong TV dengan keluarganya. Saat Nisa dan keluarganya sedan asik-asiknya menonton TV, tiba-tiba terdengar suara pesawat mendarat dari arah luar rumah mereka. Penasaran akan hal tersebut, Nisa pun menanyakan hal tersebut pada kedua orang tuanya. Kedua orang tuanya pun menjawab bahwa itu hanya perasaan Nisa saja. Karena tidak puas dengan jawaban orang tuanya, Nisa pun keluar rumah dan melihat ke samping rumahnya dan benar saja tidak ada apa-apa di sana melainkan angin yang bertiup kencang meniup pepohonan. Karena tidak menemukan hal apa-apa, Nisa pun kembali ke ruang nonton keluarganya.
Pagi pun tiba. Saatnya Nisa berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah Nisa melihat jam dinding sekolah dan masih menunjukkan pukul 07.10. sembari melihat jam tersebut, Nisa teringat akan kejadian tadi malam dan segera saja ia berlari mencari temannya Ardi dan Sari. Setelah menemukan kedua temannya itu, Anisa mencertiakan semua kejadian tadi malam yang di alaminya hingga tak terasa bel tanda masuk kelas pun berbunyi.
3 menit setelah bel masuk kelas, bu guru datang ke kelas tidak seperti biasanya karena kali ini bu guru membawa seorang murid baru. Ketika bu guru memasuki kelas, seluruh murid bertanya-tanya siapa anak yang bersama guru mereka. Untuk menjawab penasaran murid-muridnya, bu guru pun menjelaskan bahwa anak yang bersamanya tersebut adalah murid baru di sekolah dan di kelas ini. Setelah penjelasan tersebut, mereka juga mengetahui siapa nama murid baru tersebut, Dina namanya. Sesudah sesi perkenalan, proses belajar mengajar pun dimulai. 85 menit proses belajar mengajar tidak terasa hampir usai. 5 menit sebelum bel istirahat bu guru memberi tugas kelompok kepada mereka dengan jumlah anggota tiap kelompok maksimal 4 orang. Mendengar tugas tersebut, Nisa langsung menggaet 2 temannya dan sekarang mereka masih 3 orang. Melihat kelompoknya kekurangan orang, Nisa mencoba mencari seorang lagi dari antara teman-temannya yang belum mendapati kelompok. Hasilnya, Dina cuma yang belum memiliki kelompok sehingga kelompok Nisa menggaet Dina menjadi anggota kelompok tersebut. Setelah mendapat rekan satu kelompok, Nisa menanyakan kapan akan dilaksanakan pekerjaan mereka tersebut. Sari memberi ide bagaimana kalau kerja kelompok tersebut dilakukan pada hari Senin sore bertempat di rumah Sari sendiri. Atas ide tersebut semua anggota kelompok itu setuju.
Tibalah hari yang ditentukan untuk kerja kelompok di rumah Sari. Saat sedang asik-asiknya mengerjakan tugas tersebut, tiba-tiba saja Sari menanyakan dimana letak rumah Dina kepada Dina. Mendengar itu, Dina pun menjawab, “Siusssiiiiiiitttttss?” “kamu bilang apa?” tanya Sari kaget. “Ehe... maaf-maaf. Nggak apa-apa kok! Tadi kamu nanya di mana rumahku? Kalau rumah ku ada di planet mars!” jawab Dina. “Haa!!! Planet mars???” jawab mereka bertiga serentak. “Eh... sorry-sorry! Maksud ku aku tinggal nggak jauh dari sini tapi...” jawab Dina. “Tapi apa Din?” tanya Ardi penasaran. “Tapi sekarang ibu ku sedang sakit dan aku anak tunggal sementara ayahku pergi meninggalkan kami.” jawab Dina kembali. Setelah percakapan singkat tersebut, pekerjaan yang sempat terhenti tadi dilanjutkan kembali. Setelah kira-kira 3 jam, tugas mereka akhirnya selesai juga. Setelah pekerjaan tersebut selesai, Ardi, Nisa, dan Dina permisi pulang kepada Sari. Selama di perjalanan pulang, mereka banyak mengobrol tentang diri mereka masing-masing hingga tiba-tiba langkah Ardi dan Nisa terhenti karena mereka melihat cahaya merah berkedip-kedip diatas kepala Dina. Penasaran akan hal itu, Ardi memberanikan diri menanyakan hal tersebut kepada Dina dan Dina mengatakan bahwa apa yang mereka lihat itu hanya sebuah bintang. Percaya akan hal tersebut, mereka pun melanjutkan perjalanan dan sampai ke rumah mereka masing-masing.
Esok paginya ketiga sahabat tersebut kembali bertemu di kantin sekolah. Di sana mereka membicarakan keanehan yang terjadi pada teman baru mereka, Dina. Karena tidak menemukan jawaban yang pasti dan tepat, mereka merencanakan megunjungi rumah Dina guna menyelidiki hal tersebut serta sekaligus menjeguk ibunya yang sedang sakit. Sore itu ketiga sahabat tersebut mengunjungi rumah Dina yang ternyata tidak jauh dari rumah Ardi. Sesampainya di rumah tersebut, mereka melihat rumah tersebut kotor, jelek, dan terlihat kosong. Dengan segudang rasa penasaran, Ardi lantas saja masuk ke rumah tersebut. Sesampainya di dalam rumah tersebut alangkah terkejutnya mereka sebab mereka melihat 2 mahluk aneh yang aneh yang menurut mereka seperti alien. Melihat alien tersebut ketiga sahabat tersebut pun berlari ke arah pintu namun sayang pintu tersebut tertutup dan terkunci. Karena tidak bisa keluar, alien tersebut mendekati mereka bertiga dan mengubah bentuk dirinya menjadi Dina yang sebenarnya. Setelah transformasi tersebut, Dina mempersilahkan ketiga temannya itu duduk dan sembari duduk Dina menceritakan yang sebenarnya bahwa mereka terdampar di bumi yang seharusnya mereka terbang ke planet venus. Setelah mendengar penjelasan Dina, ketiga sahabat tersebut pun pamit pulang dengan terburu-buru karena ketakutan.

Keesokan harinya ketika di sekolah Ardi, Nisa, dan Sari tidak menemukan Dina di kelas. Karena penasaran, selepas pulang sekolah mereka mengunjungi rumah kosong yang ditinggali oleh kedua alien tersebut. Sesampainya di sana mereka menemukan secarik kertas yang bertuliskan “Mungkin setelah kalian membaca surat ini aku sudah sampai di planet tujuanku, planet venus. Oleh sebab itu aku mau mengucapkan terimakasih atas pertemanan kita yang singkat ini serta kirim kan juga salam ku kepada bumi kalian karena cuma planet inilah yang terindah dari planet yang lainnya yang pernah ku kunjungi. Salam dari Dina si Alien.” setelah membaca surat tersebut mereka yakin bahwa teman baru mereka tersebut sudah berada di planet lain.
,
Pagi itu kembali Rudi datang ke sekolahnya dengan wajah keletihan dan tas yang begitu besar dan tidak biasanya Rudi diam murung begitu baru masuk kelas. “Halo Rud, kenapa pagi ini kok kamu nggak semangat?” tanya Haris. “iya Rud. Kalau ada masalah cerita – cerita sama kita dong, siapa tahu kita bisa bantuin mecahin masalah kamu!” sambung Wawan. “betul tuh kata Haris dan Wawan! Ceritain aja, kan kamu udah percaya dengan kami bertiga!” kata Sisi. Tiba – tiba saja Rudi berlari keluar kelasnya dan menuju kearah kantin.
Bel pelajaran pun berbunyi. Hingga guru masuk kedalam kelas, Rudi belum juga ada di dalam kelas dan bangkunya masih kosong. Ketika ibu guru mengabsen seluruh murid, hanya nama Rudi yang tidak terdaftar di buku absen. Oleh sebab itu ibu guru pun bertanya, “ada yang tahu dimana si Rudi?” Haris pun mengangkat tangannya dan menjawab, “saya tahu Bu!” “dimana dia?” tanya bu guru. “tadi dia di kantin bu!” jawab Haris kembali. “kalau begitu, Haris cari dia ke kantin setelah itu bawa dia menghadap ibu!” pintah sang guru. “baik bu!” jawab Haris. Setelah diizinkan sang guru, Haris pun keluar dari kelas dan mecari Rudi ke kantin namun tidak ada. Setelah itu ia mencari Rudi ke belakang sekolah dan benar ternyata Rudi sedang duduk di bawah pohon di belakang sekolah. “kamu ngapain di sini? Ayo kita ke kelas!” ajak Haris. Rudi hanya diam termenung tanpa menghiraukan ajakan Haris. Tiba – tiba saja bel istirahat berbunyi, dengan cepat Rudi pergi meninggalkan Haris dan berlari ke dalam kelas. Sesampainya di kelas, Rudi menggambil tasnya dan segera pergi meninggalkan kelas dan sekolahnya. Belum sempat Haris dan Wawan menjegatnya, Rudi sudah pergi jauh.
Karena kejadian itu, Haris melaporkannya kepada bu guru, “Bu, Rudi sudah pergi dari sekolah!” “kemana?” tanya bu guru. “saya tidak tahu bu!” jawab Haris. “saya curiga dengan anak itu, kenapa dia tiba – tiba diam tanpa alasan yang tepat serta mengapa tidak seperti biasanya dia membawa tas yang besar dan berat?” tanya bu guru pada Haris. “saya juga curiga bu!” jawab Haris. “kalau begitu saya akan memberi kamu tugas! Kamu selidiki apa yang terjadi pada Rudi! Bisa?” tanya bu guru. “Bisa bu!” jawab Haris. Mendapati tugas tersebut, Haris pun memberitahukan kepada kedua temannya, Wawan dan Sisi. Setelah memberitahukan tugas tersebut, Wawan mengusulkan untuk menyelidiki rumah Rudi lebih lanjut.
Selepas pulang sekolah, Wawan, Sisi, dan Haris menjalankan misi mereka. Sesampainya di rumah Rudi, mereka melihat tidak ada tanda – tanda orang di rumah tersebut. Karena penasaran, Sisi memanggil nama Rudi dengan keras samapi beberapa kali namun tidak ada jawaban. Karena tidak ada hasil, mereka pun merencanakan suatu hal agar Rudi mau mengaku pada mereka esok pagi.

Keesokan harinya Wawan dan Haris menjalankan misi mereka. Pertama mereka mengambil tas berat milik Rudi dan membuka isi tas tersebut. Namun tanpa mereka sadari, sedari tadi Rudi mengintip dari luar jendela apa yang mereka lakukan terhadap tasnya. Rudi hanya diam tanpa bereaksi ketika mereka membongkar tasnya. Tanpa disadari Rudi juga, Sisi telah ada dibelakangnya dan menegur dia. Karena teguran tersebut Rudi terkejut hingga mengeluarkan suara yang kuat sehingga mengejutkan Haris dan Wawan yang berada di dalam kelas. Melihat Rudi di luar kelas, ketakutanlah Haris dan Wawan. Sebab mereka takut kalau Rudi akan marah dan membenci mereka. Tapi semua itu diluar kenyataan. Rudi dengan tertuduk malu masuk kedalam kelas sambil berkata, “selama ini aku yang salah! Aku nggak pernah cerita sama kalian semua apa yang menjadi masalah ku selama ini. Sebenarnya rahasia tas berat ku tersebut adalah rahasia keluarga ku juga. Dimana karena keluarga kami sedang berantakan.” “jadi?” serentak mereka bertiga bertanya. “karena itu aku harus berbagi waktu untuk menginap di rumah ayahku atau ibuku” jawab Rudi. “O... jadi begitu” jawab mereka serentak. Setelah Rudi memberi tahu apa yang menjadi masalahnya, kini Rudi kembali menjadi anak yang aktif dan riang di kelas.
,
Pagi itu Irfan pergi ke sekolah melewati sebuah rumah kosong yang sudah bertahun – tahun tak berpenghuni. Ketika ia melihat rumah itu, naiklah semua bulu kuduknya dan ia mulai merinding. Tiba – tiba saja ia melihat bayangan putih melintas dari rumah tersebut. Melihat itu, Irfan berlari sekencang – kencangnya menuju sekolahnya. Sesampainya di sekolah, Irfan bercerita kepada teman – temannya tentang pengalamannya saat ia di jalan menuju ke sekolah. Dan ternyata teman – teman Irfan juga sering melihat penampakan dari dalam rumah tersebut.
Bel pulang sekolah pun berbunyi, tetapi Irfan tidak langsung pulang melainkan ia melaksanakan tugas piket menyapunya. Setelah itu, Irfan dan teman – temannya pulang bersama. Namun sayang tiba – tiba hujan lebat turun dengan cepat sehingga memaksa mereka menunggu di sekolah. Pukul 7 malam hujan pun kembali reda. Irfan dan teman – temannya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Saat mereka di jalan, mereka melewati rumah kosong yang dikisahkan Irfan tadi pagi. Saat mereka melewati rumah tersebut, mereka mendengar suara yang aneh dari dalam rumah tersebut. Karena rasa takut yang sudah memucak, Irfan dan teman – temannya lari tunggang langgang menjauhi rumah tersebut.
Belum lama Irfan sampai di rumahnya, ia mendengar telepon rumahnya berdering. Lalu ia mengangkat gangang telepon tersebut dan bertanya, “dengan siapa ya?” “aku Ganang! Eh... coba deh lihat besok pagi di depan rumah kosong tadi, pasti ada bercak warna merah pasti itu darah!” kata Ganang. Mendengar pernyataan Ganang, Irfan langsung menutup gangang telepon dan berlari ke kamarnya dan langsung tidur. Besok paginya, teringat akan perkataan Ganang tadi malam, Irfan ingin membuktikan ada atau tidaknya bercak darah tersebut. Saat pergi sekolah, ia melewati rumah kosong tersebut dan benar saja perkataan Ganang tadi malam bahwa ada bercak darah di depan rumah tersebut. Sesampainya di sekolah, Irfan menantang ke delapan temannya untuk masuk ke dalam rumah kosong tersebut nanti malam. Ternyata semua teman Irfan setuju dan mereka sepakat berkumpul di depan rumah tersebut jam 7 malam.
Tepat jam 7 malam mereka semua sudah berkumpul di depan rumah kosong tersebut termasuk Irfan. Dengan rasa takut di dalam mereka semua, mereka memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Sesampainya didalam rumah tersebut, tiba – tiba saja pintu utama tersebut menutup dengan sendirinya sontak saja mereka terkejut dan hampir berlari. Karena penasaran akan rumah tersebut, mereka menusuri setiap ruang dan lorong dari rumah tersebut. Namun satu pun tak ada yang mereka temukan selain ruang yang kosong. Akhirnya ketika mereka ingin pulang dan keluar dari rumah tersebut terlihatlah bayangan dari belakang rumah tersebut. Sontak saja mereka berlari ke arah pintu keluar namun sayang ketika mereka mencoba membuka pintu tersebut pintu tersebut tidak bisa dibuka. Karena tidak bisa dibuka, mereka kembali menoleh kebelakang dan melihat bayangan itu semakin dekat ke arah mereka dan tiba – tiba saja sosok yang ditakuti mereka menampakkan wajahnya yang ternyata adalah Pak Makmur pemilik rumah tersebut. Karena penasaran Irfan pun bertanya tentang kejanggalan selama ini yang ada di rumah Pak Makmur dan ternyata bayangan yang sering mereka lihat itu adalah istri dari Pak makmur yang kebetulan lewat dan bercak darah yang ada di depan rumah Pak Makmur ternayta adalah tumpahan cat anak Pak Makmur. Setelah mendengar penjelasan tersebut, pulanglah mereka ke rumah mereka masing – masing tanpa ada rasa penasaran.


,
Suatau hari ada seorang anak yang bernama Hery. Hery memiliki sifat pantang menyerah, baik, pandai, serta mudah bergaul. Suatu hari di desanya diadakan lomba antar desa. Desa yang bertanding adalah desa Makmur dan desa Sentosa. Pertandingan yang akan dilombakan adalah sepak takraw, volly, bola kaki, tarik tambang, dan panjat pinang. Hery dan timnya mengikuti lomba sepak takraw. Mereka memilih perlombaan tersebut karena dari sekian banyak perlombaan, tim mereka selalu unggul dalam pertandingan sepak takraw.
1 bulan menjelang pertandingan antara kedua desa itu mereka berlatih sekeras – kerasnya. Pada hari kelima belas menjelang pertandingan tersebut, Ricky mengatakan kepada timnya bahwa lawan mereka sangat tangguh serta nakal dan sombong. Mendengar hal tersebut, mereka semakin giat berlatih dan menambah jadwal latihan mereka serta menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan fit saat pertandingan nanti.
Setelah 10 hari berturut – turut mereka latihan dengan keras, datanglah tim lawan ke desa mereka dengan sombongnya berkata, “ percuma kalian latihan dengan keras! Kalian hanya anak – anak kecil lemah! Lebih baik kalian menyerah aja dari sekarang! Daripada nanti kami buat kalian keok dan malu di depan umum? Ha.... ha.... ha...” datanglah Irfan, “Kalain jangan cari gara – gara ya!” “sudah-sudah tidakusah berkelahi! Lebih baik kalian pergi dari sini dari pada membuat keributan!” lerai Hery.
Lalu setelah 4 hari berlalu dan esoklah hari pertandingan mereka pun berlatih lebih keras lagi dan sampai – sampai merekaizin tidak masuk sekolah hanya demi pertandingan ini. Tibalah esok hari pertandingan. Tim dari desa Makmur dan desa Sentosa juga sudah siap. Setelah beberapa pertandingan dilaksanakan, tibalah pertandingan sepak takraw. Dan ketika dipanggil, kedua tim langsung memasuki lapangan pertandingan. Ketika pluit di tiup kedua tim pun bermain dengan sempurna dan hebat namun sayang ketika waktu hampir habis tim Sentosa membuat kesalahan sehingga tim Makmur lah yang menjadi juara. Merasa tidak terima, tim Sentosa memprotes bahwa tim Makmur bermain dengan curang dan berlatih dengan curang. Mendegar fitnah tersebut, naiklah emosi Irfan dan Ricky sehingga mereka terlibat perkelahiandengan tim Sentosa dan mengakibatkan Irfan dan Ricky luka-luka sehingga harus dibawa ke rumah sakit.

Ketika di rumah sakit, mereka kembali bertemu dengan tim Sentosa sehingga terjadi adu mulut. Saat adu mulut, tim Sentosa di bawa paksa satpam keluar rumah sakit sendangkan tim makmur mengunjungi teman mereka yang dirawat. Di dalam kamar pasien tersebut, mereka ngobrol-ngobrol. Lalu datanglah sala seorang tema mereka dan berkata, “Ehh.. dasar kemenangan yang menyakitkan.” Mendengar itu tertawalah seisi ruangan tersebut. Di balik kegembiraan tersebut mereka masih menyimpan dendam atas tim Sentosa dan mereka akan membalasnya tahun depan pada pertandingan yang sama dengan skor telak.
,
Di sebuah kerajaan ada seorang raja yang bernama Raja Baraking. Raja ini biasa disebut Raja King oleh rakyatnya. Raja ini memiliki seorang Putra pewaris tahta kerajaannya yang bernama Pangeran Leonardo. Leonardo biasanya disapa rakyatnya dengan sebutan Leo.
Raja King memiliki sifat yang tegas, baik, bijaksana dalam menggambil keputusan, dan kosisten. Tetapi itu semua bertolak belakang dengan sifat putranya, Pangeran Leo. Pengeran Leo memilik sifat sombong, tidak tahu terima kasih, dan tidak sopan tetapi dialah orang yang paling pandai mengatur strategi peperangan di kerajaan tersebut. Dan didalam kesatuan di kerajaannya, sang pangeran sudah berpangkat letnan jendral yang akan diangkat ayahnya satu bulan lagi menjadi jendral di kerajaannya.
Selama proses satu bulan tersebut, sang raja ingin mengetahui bagaimana kebijaksanaan putranya. Oleh sebab itu sang raja menyamar menjadi rakyat jelata di kerajaannya sendiri. Oleh sebab itu juga heboh lah seluruh kerajaan karena satu pun tidak ada yang tahu sang raja pergi kemana. Selama itu juga sang pangeran diangkat menjadi raja sementara di kerajaan tersebut. Selama 11 hari masa pemerintahan sang pangeran, sang raja menilai bahwa putranya kini sudah bijaksana namun pernyataannya keliru ketika sang raja mendengar suatu berita bahwa kerajaan akan diserang oleh kerajaan Aggara 2 hari lagi. Mendengar berita itu khawatirlah sang raja. Kekhawatiran raja semakin menjadi – jadi sebab ketika sang jubir kerajaan mengatakan berita itu kepada sang pangeran, pangeran hanya diam dan tidak mengambil keputusan karena ia menganggap bahwa peperangan kali ini akan dimenangkan kerajaannya karena kerajaan ayahnya selalu menang dalam setiap pertempuran.
Mendengar kesombongan putranya, sang ayah pun marah dalam hatinya karena putra yang selama ini dianggap baik, setia, dan tidak sombong ternyata itu hanya didepannya saja. Hingga tibalah hari penyerangan ke kerajaan Pangeran Leo. “Kami memberika kesempatan kepada Pangeran Leo untuk memberikan kerajaan anda beserta isinya kepada raja kami Raja Selseryn!” kata jubir kerajaan Aggara. “sehebat apa kemampuanmu, ha? Kami selalu menang atas kerajaan kalian jadi sebaiknya kalianlah yang menyerah!” balas sang pangeran. “sombong sekali kau! Serangggggg!!!” perintah komandan. Mendengar kata serang tersebut, terkejutlah sang pangeran karena satupun pasukkannya belum ia persiapkan. Karena satupun pasukan tidak ia siapkan maka hari itu juga kerajaan Pangeran Leo jatuh ke tangan kerajaan Raja Selseryn. Karena mengetahui kerajaannya di jajah oleh kerajaan lain, bergegaslah sang raja mengumpulkan pasukan rahasianya yang berjumlah 15.000 orang di tempat persembunyiannya. Di sana sang raja mengatur strategi guna merebut kerajaan mereka kembali. Ketika strategi telah diberikan, mulailah penyerangan ke kerajaan Aggara. Di sana, pasukan Raja King berhasil menginvasi kerajaan Aggara. Karena keberhasilan tersebut, tersiarlah kabar kalau kerajaan Aggara bisa direbut oleh Raja King. Mendengar berita tersebut, Raja Selseryn memerintahkan semua pasukannya untuk kembali kekerajaan guna merebut kembali kerajaan mereka. Mendengar berita itu, bergegaslah pasukan Raja King kembali ke kerajaan mereka dan merebut kembali kerajaan mereka. Sementara pasukan yang tersisa ditugaskan untuk menghabisi seluruh pasukan kerajaan Aggara serta sang raja, Raja Selseryn.
Setelah kerajaan Pangeran Leo berhasil di rebut kembali oleh Raja King, maka diadakan perjumpaan yang besar di alun – alun kerajaan dengan di hadiri oleh petinggi kerajaan serta seluruh rakyat. “saya berdiri di sini dan mengumpulkan anda – anda semua karena satu hal, yaitu karena putra saya sendiri dan pangeran kalian semua. Mengapa? Pertama saya ingin meberitahu bahwa penyerangan yang menimpa kerajaan ini mutlak karena kesalahan sang pangeran bukan karena kesalahan penasihat dan kedua akibat kesalahan tersebut, saya akan menunda kenaikan pangkat putra saya dan akan menghukumnya di dalam gua di tengah hutan kerajaan kita” kata sang raja. Mendengar pernyataan tersebut, hadirin yang hadir menjad diam seribu bahasa dan bertanya – tanya mengapa raja yang baik dan bijaksana harus menghukum putranya sendiri?

Atas perintah sang raja, maka sang pangeran pun dikurung dalam gua dan ditutup dengan batu selama  3 hari lamanya. Sang raja berharap dengan perlakuannya seperti itu sang pangeran akan berubah total ke arah yang lebih baik. 3 hari masa kurungan sang pangeran telah selesai dan pangeran di persilahkan keluar dari gua dan harapan sang raja terwujud. Semenjak Pangerna Leo di kurung dalam gua, ia semakin baik, bijaksana, dan peduli terhadap rakyat.
,
Suatu hari di salah satu kota besar di Inggris hiduplah sepasang suami istri. Mereka berdua adalah pecinta anjing yang baik. Suatu hari, sepasang suami istri tersebut ingin memelihara seekor anak anjing. Oleh karena itu pergilah kedua pasangan tersebut ke tempat penampungan anjing liar untuk mengadopsi seekor anak anjing. Sesampainya di tempat penampungan, mereka jatuh hati kepada seekor anak anjing yang baru berumur 3 bulan dan mereka memberi nama anak anjing tersebut Fidelis yang berarti setia.
Setelah penantian yang cukup lama, akhirnya kedua pasangan yang berbahagia tersebut dianugrahi oleh Tuhan seorang bayi laki – laki, Lucky namanya. Karena masih bayi, ibunya Lucky ingin mencarikan seorang penjaga bayi untuk anaknya. Hingga suatu hari secara tidak sengaja ayah Lucky melihat Fidelis menemani Lucky yang sedang tertidur dan anjing tersebut mampu memberi keamanan pada Lucky sehingga pasangan tersebut mempercayai semua keamanan Lucky kepada Fidelis.
3 tahun pun berlalu, sekarang umur Lucky sudah menginjak 3 tahun. Oleh sebab itu pada hari ulang tahunnya Lucky, ayah dan ibunya Lucky mengajak Lucky untuk berjalan – jalan dengan anjing kesayangan mereka Fidelis. Tapi ketika Fidelis diajak, ia menolak. Tanpa rasa curiga sedikit pun, keluarga tersebut pun meninggalkan Fidelis sendirian di rumah dengan anggapan bahwa Fidelis ingin menjaga rumah. Dengan setia Fidelis menunggu keluarga tersebut pulang di beranda rumah. Hingga hari menjelang malam, keluarga tersebut tidak kunjung pulang. Karena kelelahan, Fidelis pun tertidur di depan pintu rumah keluarga tersebut.
Esok harinya ketika Fidelis terbangun dari tidurnya, ia belum juga mendapati tuannya di rumah tersebut. Karena belum mendapati keluarga tersebut, Fidelis pun melolong keras dengan suara yang menyayat hati. Ia melolong keras hingga menjelang malam hari. Karena merasa kasihan, tetangga yang disamping rumah keluarga tersebut mendatangi rumah keluarga Lucky dan ketika tetangga tersebut membuka pagar rumah tersebut, berlarilah Fidelis keluar pekarangan rumah menuju ke rumah saudara keluarga tersebut yang tidak jauh dari rumah keluarga tersebut. Sesampainya di sana, Fidelis melihat banyak orang di rumah saudara keluarga tersebut. Sesampainya di rumah saudara tersebut, Fidelis melihat 3 orang tuannya sedang tertidur di dalam sebuah peti. Karena ketidaktahuannya, Fidelis mencoba menjilati tuannya tersebut dan tidak ada hasil. Hingga Fidelis mencoba menekan – nekan dada tuannya juga tidak ada hasil. Karena tidak ada hasil ia mencoba melolong dengan suara yang menyayat hati orang banyak yang mendengarnya. Hingga malam itu, Fidelis tidur disamping mayat tuannya hingga esok pagi.
Esok paginya, berkumpullah semua kerabat dari keluarga tersebut guna mengiringi proses pemakaman keluarga tersebut. Sesampainya di pemakamanan, dilaksanakan misa requiem terakhir bagi keluarga tersebut. Sebelum penutupan makam tersebut, diadakan penaburan bunga, dengan cepat Fidelis menggambil 3 tangkai bunga mawar. Setelah semua sanak saudara keluaraga tersebut menabur bunga ke dalam makam, tibalah giliran Fidelis menaruh ketiga tangkai bunga mawar tersebut ke dalam makam tersebut satu persatu.
Setelah proses pemakaman selesai, seluruh kerabat keluarga tersebut kembali ke rumah masing – masing termasuk Fidelis yang langsung berlari ke rumah tuannya. Sesampainya di rumah tuannya, ia kemudian mengambil foto dirinya dan keluarga tersebut sambil meneteskan air matanya. Malam harinya kembali Fidelis keluar dari rumah dan memanjat ke atap rumah tuannya sambil melolong panjang dengan suara yang menyayat hati. Semalaman ia melolong diatas rumah hingga keesokan harinya salah seorang kerabat dari keluarga Lucky mendatangi rumah tersebut guna mengadopsi Fidelis. Tapi ketika Fidelis diajak dia menolak dan tak mau beranjak dari kamar Lucky. Dengan berat hati kerabat tersebut keluar dari rumah tersebut dan pergi pulang.                                                                                              
1 bulan kemudian ketika kerabat keluarga tersebut ingin berziarah mereka mendatangi terlebih dahulu rumah keluarga Lucky guna membersihkan rumah tersebut dan mengajak Fidelis ke makam keluarga Lucky. Sesampainya di sana, tidak ditemukan Fidelis dan keadaan rumah tersebut benar – benar rapi dan bersih. Sambil terbengong – bengong mereka saling memandang dan bertanya – tanya siapa yang membersihkan rumah ini padahal sudah 1 bulan ditinggal?

Karena mereka pikir seorang pembantu yang ada di rumah itu yang membersihkan rumah peninggalan keluarga Lucky, maka mereka semua melanjutkan perjalanan mereka ke makam keluarga Lucky. 200 meter sebelum sampai di makam keluarga tersebut, mereka mendegar lolongan Fidelis dengan keras dan dengan suara yang menyayat hati bagi yang mendengarkan. Dengan cepat beberapa dari mereka berlari menuju suara tersebut. Namun malang ketika mereka sampai di tempat asal suara, mereka sudah melihat Fidelis meregang nyawa. Tubuhnya kurus dan kering. Karena kesetiaannya kepada tuannya hingga akhir hayatnya, kerabat keluarga tersebut pun menguburkan Fidelis di samping makam keluarga tersebut.
,
Pada suatu hari di sebuah Taman kanak – kanak ingin melakukan suatu kegiatan yaitu berkunjung ke kebun binatang. Santi salah satu anak yang ikut ke kebun binatang tersebut. Saat pulang sekolah, Santi langsung menemui ibunya yang sedang duduk di belakang rumahnya. Di samping ibunya ia menceritakan apa yang dikatakan oleh Bu guru tadi saat di sekolah. Mendengar hal itu, ibunya pun setuju dengan hal itu.
Esok hari pun tiba saatnya untuk pergi ke kebun binatang. Bus yang mengantar rombongan itu menjemput satu per satu murid TK tersebut. Tibalah bus tersebut di rumah Santi, dengan itu Santi dan ibunya mendekati bus tersebut. Tapi sebelum rombongan itu pergi, ibu Sinta meminta Santi berfoto dengan Andrea temang baik Santi. Setelah mereka berfoto, ibu guru pun menuntun anak muridnya tersebut masuk kedalam bus. Belum lama bus tersebut meninggalkan rumah Santi, terdengarlah suara kegaduhan di simpang jalan dekat rumah Santi. Dengan bergegas tetangga-tetangga Santi mendatangi rumah ibunya sambil memberitahukan bahwa bus yang dinaiki oleh anaknya mengalami kecelakaan dan anehnya hanya Santi saja yang menjadi korban. Mendengar berita tersebut seketika itu juga ibu Santi pingsan.
Ketika ibu Santi siuman dari pingsannya ia sudah melihat anaknya terbujur kaku diatas tempat tidur. Melihat itu ibunya menjerit histeris dan tak kuasa menahan air matanya. Setelah disemayamkan di rumah duka, Santi pun di kebumikan. 100 hari sebelum hari kematian Santi, ibunya sangat rajin ke makam dimana santi di makamkan. Tetapi tepat 100 hari kematian Santi, ibunya tak mengunjungi makam anaknya tersebut hingga satu tahun kedepan dengan alasan sibuk bekerja serta tak ingin menginggat kenangan bersama anaknya tersebut.
Tepat satu tahun sang ibu tidak menggunjungi makam anaknya. Dan yang paling parahnya makam sang anak tak pernah dirawat dan dibersihkan oleh si penjaga makam. Hingga pada suatu malam yang dingin dan pekat tiba – tiba saja terdengar suara telepon yang berdering dan ibu Santi pun mengangkat telepon tersebut. “Halo ini dengan siapa ya?” tanya ibu Santi. “Halo Mila (nama Ibu Santi) ini aku Lita, saudaramu yang dulu meninggal dunia.” Suara dari sebrang telepon menjawab. Ibu Santi pun menjawab, “Ini nggak mungkin...... gak mungkin...” mendengar suara itu, Ibu Santi langsung menutup gagang telepon.
Setelah percakapan tadi, tiba – tiba saja lampu rumah ibu Santi padam. Saat lampu mati ibu tersebut pun menggambil lilin untuk penerangan ruangan di rumah tersebut. Saat itu juga ketika ibu Santi sampai di ruang tamu, telepon kembali berbunyi dan ibu Santi bertanya, “I...ni si....aapaaa..?” “Halo mama! Kenapa mama nggak pernah ngunjungi aku lagi? Apa mama nggak sayang lagi sama ku?” Santi menjawab dari sana. “ini pasti nggak kamu kan nak?” tanya ibu Santi. Tiba – tiba saja sambungan telepon terputus.
Setelah telepon rumah tersebut terputus, ibu Santi langsung saja menutup gagang telepon rumahnya tersebut dan seketika itu juga lilin yang ada di dekatnya mati. Untuk itu ibunya Santi mengambil mancis ke dapur. Setelah kembali dari dapur, sang ibu pun kembali ke ruang keluarga. Saat mendekati kaca ruang keluarganya, ibu tersebut melihat bayangan anaknya sedang bermain ayunan di samping rumahnya. Melihat itu si ibu pun langsung berlari ke balik tembok dan ketika ia kembali melihat ke luar jendela, bayangan itu sudah tidak ada lagi.

Setelah itu semua ibunya pun tidur di kamarnya. Saat dia tidur, ia seperti memegang tangan seseorang dan ketika ia membuka matanya, ia melihat bahwa ia sedang memgang tangan anaknya yang sudah meninggal setahun lalu. Melihat hal itu, si ibu pun seketika pingsan. Esok harinya ntah karena apa ibu Santi berlari ke rumah ibunya Andrea dan meminta foto ketika Santi dan Andrea berfoto sebelum kejadian yang merenggut nyawa Santi seorang. Alangkah terkejutnya ibu Santi ketika melihat foto tersebut. Ia melihat hanya Andrea yang ada dalam foto tersebut sedangkan Santi tidak ada di dalamnya. Dengan diliputi rasa bingung, takut, dan cemas ibu Santi memberanikan diri bertanya pada Ibunya Andrea. Dan ibu Andrea mengaku bahwa ia sering mendengar anaknya berbicara sendiri dengan seseorang yang tidak di ketahuinya dan ibu Andrea sering mendengar anaknya berbicara tentang makam, makam, dan makam. Mendengar pernyataan tersebut, tersentak kagetlah ibu Santi karena ia teringat kejadian tadi malam yang di alaminya. Sadar akan hal itu, dengan bergegas ibu Santi pergi ke makam anaknya sembari berdoa dan meminta maaf atas kelalaiannya selama ini kepada anaknya dan Tuhan. Semenjak itu, ibu Santi selalu rajin berkunjung ke makam anak nya setiap sebulan sekali dan semenjak itulah anaknya tak pernah menggangunya lagi.
,
Di pagi yang cerah, ketiga sahabat Andi, Sinta, dan Cinta sedang asik barmain di rumah Cinta. Mereka asik bermain – main bersama hingga tiba waktunya jam makan siang. Setibanya waktu jam makan, mereka kembali ke rumah masing – masing untuk makan siang. Kembali esok paginya Andi dan Sinta mengunjungi rumah Cinta untuk bermain bersama. Tapi hari ini terasa berbeda dari hari – hari yang sebelumnya karena hari ini Cinta bersedih sebab majalah kesayangannya hilang di curi orang.
Andi sebagai seorang laki – laki berfirasat kalau majalah itu tidak jauh dari sekitar rumah Cinta. Oleh karena itu mereka bertiga pun kembali mencari majalah tersebut di dalam maupun diluar rumah Cinta. Sembari mencari majalah tersebut, tiba - tiba Andi teringat akan kejadian kemarin saat ia hendak pulang menuju ke rumahnya. Dimana Firman dan Ari anak panti asuhan Kasih Ibu bisik – bisik di depan rumah Cinta kemarin. Karena teringat hal itu, Andi pun memberitahu hal tersebut kepada Cinta dan Sinta. Karena sudah sangat emosi, Cinta ingin langsung ke Panti asuhan dan mendamprat Firman dan Ari. Tapi Andi menahan langkah Cinta dan mengajukan sebuah usul. “gimana kalau kita minta bantuan temanku saja, Ryan?” usul Andi “O.... si detektif cilik?” sambung Sinta. “Yapp... teman satu kelas ku. Agar tidak membuang waktu lama, ayo kita segera ke rumahnya!” kata Andi. Pagi itu juga Andi, Sinta, dan Cinta berangkat menuju rumah Ryan untuk meminta bantuan. Sesampainya disana, si detektif cilik menyabut mereka dengan gembira, “Loh kalian ngapain kesini pagi-pagi?” “Gini, temanku yang satu ini dia kehilangan majalah kesayangannya tadi pagi.” Jawab Andi. “Kok bisa hilang?” tanya Ryan kembali “perkiraan kami majalah tersebut di curi.” jawab Andi. “siapa yang paling kalian curigai?” tanya Ryan. “Firman dan Ari” jawab mereka bertiga serentak. Setelah mendengar jawaban tersebut, keempat orang anak tersebut pun langsung pergi keluar komplek menuju panti asuhan Kasih Ibu yang tak jauh dari depan komplek mereka.

Sesampainya di depan panti asuhan tersebut, mereka melihat Firman sedang membaca majalah yang di curi kemarin dari rumah Cinta. Dengan mengendap-ngendap Ryan dan Andi mendekati Firman namun sayang Ari melihat mereka berdua menuju ke arah Firman dan segera Ari berlari disusul oleh Firman ke dalam panti asuhan. Mendengar suara kaki berlari, ibu panti asuhan keluar dari panti asuhan dan melihat Andi dan Ryan di depan pintu gerbang panti asuhan tersebut. Karena penasaran ibu tersebut pun bertanya kepada mereka berdua dan dengan tenang Andi menjawab pertanyaan ibu tersebut dan ibu tersebut percaya akan penjelasan Andi dan mempersilakan Andi dan teman – temannya menyelidiki lebih lanjut. Setelah di beri izin, meeka mendatangi kamar Firman dan Ari. Ketika mereka masuk ke kamar itu, mereka melihat Firman dan Ari sedang bermain catur dan Andi pun bertanya, “tadi kalian kan yang berlari – lari?” “mana mungkin? Dari tadi kami main catur kok” jawab Ari. “jadi kalau bukan kalian yang berlari tadi, kenapa pion-pion catur tersebut tidak berada di tempat yang benar? Dan kenapa saat kami datang kalian berlari?” tanya Ryan. Mendengar pertanyaan itu, Firman dan Ari terdiam seribu bahasa. “Kalau begitu, dimana kalian sembunyikan majalah Cinta?” tanya Ryan. “kami tidak ada mencuri majalahnya!” jawab Firman. “lantas kenapa kalian berdua lari ketika kami datang? Ayo cepat ngaku sebelum kami panggil ibu panti asuhan!” bentak Andi. “betul demi Tuh...” tiba – tiba ibu panti asuhan masuk ke kamar mereka. “ayo kalian berdua harus mengembalikan majalah Cinta!” pintah ibu tersebut. Karena takut melihat ibu pengasuh mereka, Firman pun beranjak dari tempat duduknya dan segera mengambil majalah Cinta yang ada di bawah kasur mereka dan segera mengembalikannya kepada Cinta. “Baiklah karena kalian telah mengembalikan majalah tersebut, sekarang kalian berdua harus minta maaf pada Cinta dan teman – temannya!” suruh ibu pengasuh mereka. Setelah mereka berdua minta maaf, pulang lah mereka bereempat ke rumah mereka masing – masing dan semenjak itu Ryan semakin dikenal di komplek sekitar rumahnya dan dia punya julukan baru “Si Detektif Cilik”.
,
Dimalam yang sepi di pinggiran kota Jakarta terdengarlah suara seret kaki di tengah jalan. Saat suara seret kaki tersebut mendekat, terlihat wajah sang nenek tua yang lusuh dengan baju compang – campingnya mendekati rumah seorang perwira polisi yang kaya raya. Saat nenek itu mengetok gerbang rumah perwira itu dan tak ada yang menjawab, tiba – tiba si nenek sudah berada di depan pintu utama rumah itu dan mulai mengetok pintu rumah itu. Karena mendengar ada orang yang mengetok pintu, perwira itu pun menuju ke arah pintu dan membuka pintu dan melihat seorang nenek tua dengan pakaian compang – camping serta wajah lesuh. Dengan wajah sinis si perwira bertanya, “Ehmm... anda mau apa kesini?” sebelum nenek itu sempat menjawab, tiba – tiba terdengar suara istri perwira tersebut merintih kesakitan karena masa kehamilan istrinya sudah mencapai 9 bulan dan akan melahirkan. Setelah menghampiri istrinya, perwira itu berlari ke depan pintu itu secepat kilat sehingga menjatuhkan nenek tersebut guna mencari supirnya. Setelah mendapatkan supirnya, perwira itu kembali ke kamarnya dan membawa istrinya kedalam mobil sebelum hal yang tak diinginkan terjadi. Merasa sudah siap, si supir menancap gas menuju ke rumah sakit terdekat untuk persalinan Nyonyanya. Sesampainya di rumah sakit, istri perwira tersebut langsung dibawa ke ruang persalinan dan tepat pukul 22.00 si jabang bayi lahir dengan bobot 1.5 kg dan tinggi 60.5 cm dan mereka menamai bayi mereka Elang Prasetyo. Sebelum pulang kerumah, istri perwira tersebut harus berada di rumah sakit selama 3 hari untuk pemuliha tenaganya dan memperoleh kontrol dari dokter. Satu jam sebelum kepulangan keluarga baru itu, tiba – tiba muncullah seorang nenek tua yang datang kerumah perwira itu 4 hari yang lalu dan meminta sedekah bagi dirinya. Karena merasa terganggu, perwira itu pun lalu mengusir nenek tua itu. Karena kesal, si nenek tua itu pun langsung mengeluarkan kata kutukan, “lihatlah nanti anakmu 9 s/d 5 ingat! 9 s/d 5” tanpa mempedulikan perkataan nenek tersebut, perwira itu pun lalu masuk ke dalam ruangan tempat istrinya dan segera menge-pack barang – barangnya dan segera pulang.
   Saat perjalanan menuju rumah, Elang tak tidur sedikit pun dan si Ibu tidak curiga dengan hal itu. Kecurigaan istri perwira itu baru muncul setelah umur bayi tersebut 1 minggu karena menurut sepengetahuannya, bayi biasanya akan merengek saat ia lapar atau haus di tengah malam tetapi Elang tidak. Karena kecurigaan si Ibu, Elang pun di bawa ke dokter dan dokter mengatakan bahwa tidak ada masalah di bagian apapun. Karena merasa semua sudah baik, orangtua Elang pun tidak membawa Elang lagi ke dokter lagi. Hingga umur 5 tahun Elang selalu menunjukkan hal yang sama seperti ia bayi dulu. Tapi anehnya, pada saat umur Elang 2 minggu, Elang pasti tidur jam 21.00 dan pasti bangun jam 05.00 dan itu tak pernah lewat sedetik pun. Pada suatu kejadian, Elang hanya sendiri di rumah tanpa seorang pun dengan ia. Tepat pukul 21.00 ia tertidur. Pas pukul 23.00 rumah Elang terbakar dan tetangga Elang memadamkan api tersebut dengan bantuan pemadam kebakaran. Karean tidak tahu ada Elang di dalam rumah tersebut, pemadaman api itu pun terus berlanjut hingga api berhasil dipadamkan tanpa tersisa sedikit apai pun. Setelah api berhasil dipadamkan, pemadam kebakaran dibantu dengan warga menyusuri rumah tersebut untuk mencari korban kebakaran tersebut. Sebuah keajaiaban terjadi Elang didapatkan sedang tertidut di kamarnya dan lebih ajaibanya, kamar dan barang yang disekitar Elang sedikit pun tak ada yang tersentuh api. Karena melihat ada yang selamat, warga sekitar memanggil ambulan untuk membawa Elang ke rumah sakit dan ajaibnya Elang tidak mengalami apa – apa setelah pemeriksaan dokter di lakukan. Sementara itu orangtua elang yang sedang diperjalanan menuju rumah mereka tidak tahu apa yang terjadi karena satu pun orang tak tahu nomor telepon keluaraga tersebut. Sesampainya di gerbang kompleks perumahan tempat mereka tinggal, seorang warga telah memberitahukan apa yang terjadi pada rumah mereka dan Elang. Tanpa pikir panjang orangtua Elang lansung pergi kerumah sakit yang dikatakan oleh warga tersebut. Sesampainya di rumah sakit, orangtua Elang lega dengan apa yang terjadi pada anaknya yang ia dapati anaknya masih bisa melihat matahari esok pagi. Hingga elang dewasa kejadian itu tak pernah terulnag kembali. Tapi di suatu hari elang sakit keras hingga ia tak mampu lagi berbicara, berjalan, dan membuka matanya pun ia tak mampu. Hingga pada suatu hari pada saat ia di peraduannya ia bermimpi bertemu dengan seorang nenek tua yang mengatakan, “Bangunlah sekarang dan lihatlah apa yang ada di sampingmu!” karena terkejut ia bangun dan secara ajaib lagi ia kini bisa membuka matanya kembali, berjalan dan berbicara serta melihat apa yang ia dengar di mimipinya tadi. Karena tidak tahu apa yang dimaksud dengan jam tersebut, ia hanya melengketkan jam tersebut di atas pintu kamarnya yang kebetulan di kamar tersebut belum ada jamnya sama sekali.
   Saat memasuki umur 22 tahun, Elang naik pangkat menjadi Kolonel dan ditempatkan di batalyon yang sama dengan ayahnya dulu. Tetapi suatu ketika keanehan terjadi dengan Elang. Yang biasanya ia tidur jam 21.00 sekarang bisa begadang hingga pagi menjelang dan tak pernah bangun pagi tepat pukul 05.00. Suatu hari, karena sudah memiliki anak ia mengajak anaknya ke rumah orangtuanya dan menginap disitu. Karena anak Elang memaksa menginap sementara Elang memiliki banyak tugas dengan istrinya, mereka menitipkan anak mereka ke Ibu dan Ayahnya Elang untuk dijaga. Karena di rumah tersebut hanya ada 3 kamar tidur saja dan kebetulan anak Elang lebih menyukai kamar ayahnya dulu maka anak Elang tidur di situ. Sebelum mereka tidur di kamar tersebut, mereka terlebih dahulu bersih – bersih kamar tersebut. Tanpa sengaja anak Elang menemukan sebuah jam yang bagus dan mati karena baterainya habis. Setelah bertanya kepada neneknya, anak Elang pun menggambil baterai ynag ditunjukkan neneknya tersebut. Setelah memasukkan baterai ke tempat jam tersebut, anak Elang mulai mengatur jam tersebut dan ketika itu pukul 20.00 WIB. Sementara itu di rumah Elang yang sedang menonton pada puku 20.59 tiba – tiba tertidur dan keesokan harinya bangun tepat pukul 05.00 tanpa lewat sedetik pun. Kini kejadian 10 tahun yang lalu yang sempat meninmpanya kembali datang dan ia kini semakin binggung atas apa yang terjadi pada dirinya.

   Selepas pulang dari rumah neneknya, anak Elang satu persatu jatuh sakit dan yang paling mengejutkan anak Elang yang kedua mengigau yang aneh – aneh. Karena menggangap itu biasa, Elang pun tak memperhatikannya. Hingga suatu saat ia teringgat akan jam tersebut dan saat itu juga ia pergi ke rumah orangtuanya untuk mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. Karena saat itu pukul 20.55 Elang pun memutuskan untuk menginap karean ia takut ia akan mengantuk di saat nanti membawa mobil. Saat di peraduaannya, ia bertemu nenek tua yang sama sekitar 10 tahun yang lalu dan nenek itu berkata kepada Elang dan mengatakan, “Janganlah sombong seperti ayahmu dan pelit seperti ia! Jadilah orang yang dermawan karena orang yang dermawan akan tenang dan damai hidupnya! Aku memberitahu ini bukan berarti kutukan ku hilang karena kutukanku akan menghilang dalam 3 hari jikaf hanya engkau melakukan hal ynag dermawan kepada orang lain tanpa di dasari perkataan ku ini tai dasarilah dengan hati nuranimu!” mendengar hal itu ia terbangun dan melihat jam menunjukkan pukul 06.00 dan Elang pun berpikir apakah kutukan ku telah hilang? Karena ia tak percaya dengan dirinya sediri, ia pun melaksanakan mandat yang di terimanya dari mimpinya tadi. Memang betul saja dalam tiga hari ia kembali ke rumah orangtuanya dan melihat jam itu sudah tidak ada lagi di atas pintu dan ia pun kini tidur bisa lebih awal ataupun begadang tanpa harus berpikir pusing lagi.